SINOPSIS Surat Kecil untuk Tuhan

Judul : Surat Kecil untuk Tuhan
Penulis : Agnes Davonar
Penerbit : Inanda Publisher
Tahun terbit : 2011
Cetakan ke : Delapan
Tebal buku : 228+x halaman
Gita Sesa Wanda Cantika, atau yang biasa dipanggil Keke adalah sosok remaja yang dikenal rajin, ramah, pintar, suka menolong, dan sangat berbakti kepada kedua orangtuanya. Sayang ia adalah anggota dari keluarga broken home. Meskipun ayah dan ibunya sudah cerai, keduanya tetap menjalani hubungan yang harmonis. Keke tinggal bersama ayah dan kakaknya, Chika dan Kiki. Mereka hidup dengan rukun.
Keke mempunyai suara yang bagus, tak heran jika pada waktu dia masih kecil pun ia sudah mengeluarkan album lagu anak-anak. Namun ketika dia sudah menginjak remaja, ia sudah tidak menekuni musik karena terlalu sibuk pada kegiatannya di sekolah. Ayahnya adalah salah satu anggota komite tempat ia bersekolah.
Suatu hari, kakaknya yang bernama Chika terkena penyakit mata yang menyebabkan matanya memerah dalam beberapa hari. Melihat kondisi kakaknya itu, Keke mengejek keadaan kakaknya dan mengatakan kakaknya seperti ikan emas. Padahal, dalam hatinya ia merasa takut kalau ia akan kena batunya. Karena sakit mata kakaknya itu hanya sakit mata biasa, maka dalam hitungan hari saja matanya sudah sembuh dan kembali normal.
Ternyata yang dikhawatirkan benar, beberapa hari setelah kakaknya sembuh, giliran Keke yang mendapati matanya memerah. Ia pun mendapat ejekan dari kakaknya. Ayahnya kaget dengan keadaan putrinya itu, karena Keke jarang sekali terkena penyakit. Ayahnya juga menganggap itu hanya sakit mata biasa yang akan sembuh dengan sendirinya beberapa hari kemudian, Keke juga berpikiran sama seperti ayahnya.
Ternyata perkiraan itu salah. Ketika Keke di sekolah, matanya bertambah merah dan terasa gatal, bahkan sewaktu pulang sekolah ia juga mimisan. Ia pun dibawa ke dokter untuk diperiksa. Dokter memberikan resep obat dan mengatakan jika dalam lima hari tidak ada perkembangan, sebaiknya diperiksakan ke dokter THT yang sudah ditunjuknya.
Ternyata dalam lima hari penyakit matanya bukan membaik tetapi justru semakin parah. Hidungya juga kini jadi mati rasa. Sesuai anjuran dokter, Keke pun dibawa ke dokter THT untuk diperiksa. Hasil ronsen oleh dokter THT menunjukkan bahwa Keke terserang kanker rabdomiosarkoma. Jenis kanker yang paling ganas yang menyerang jaringan lunak penderita. Keke merupakan orang pertama di Indonesia yang terserang kanker ini.Namun, ayahnya menyembunyikan hasil pemeriksaan tadi agar Keke tidak cemas dan panik. Keke terlalu kecil untuk mengetahui hal ini.
Dokter THT tadi mengatakan bahwa jalan satu-satunya adalah dengan operasi untuk mengangkat sel kanker tadi. Ayahnya sangat tidak menghendaki tindakan medis ini dilakukan pada anaknya, karena dapat mengakibatkan sebagian wajah anaknya cacat, dokter juga tidak menjamin keselamatan nyawa anaknya. Peluang berhasilnya sangat kecil.
Hari demi hari, kesehatan Keke makin memburuk . Muncul benjolan kecil sebesar biji kacang. Lama kelamaan benjola itu bertambah besar hingga sebesar bola tenis. Bahkan muncul lagi benjolan yang lebih besar, sebesar buah kelapa.
Berbagai cara dilakukan ayahnya demi kesembuhan putri tercintanya itu, asal tidak melalui operasi. Hampir semua tempat pengobatan tradisional di Jawa dan Bali yang ia tahu, sudah ia kunjungi. Namun hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada perubahan dan tanda-tanda yang menunjukkan keadaan Keke membaik.
Keke mnyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya tentang penyakitnya itu. Ia tetap berusaha untuk tegar di hadapan ayahnya agar ayahnya tidak sedih dengan keadaannya yang sekarang ini. Ia melihat semangat yang besar pada diri ayahnya agar ia sembuh. Ia juga sering mendengar ayahnya menangis di malam hari.
Titik terang muncul ketika ayahnya dikenalkan dengan Prof. Mukhlis, seorang profesor yang sudah menangani kasus kanker selama dua puluh tahun dan merupakan profesor kanker terbaik di Indonesia. Prof. Mukhlis merasa terkejut setelah memeriksa kondisi Keke, karena kasus yang dialami Keke adalah kasus penyakit kanker yang belum pernah ia temui selama masa karirnya. Awalnya ia mengusulkan untuk diadakan operasi. Namun ayah Keke menolak, sehingga profesor itu menawarkan cara alternatif yaitu dengan kemoterapi dan radiologi.Kemoterapi dan radiologi pun dijalani Keke, walaupun sebenarnya pengobatan itu sangat menyakitkan dirinya.
Usahanya itu tak sia-sia, kesehatannya berangsur membaik dan ia dinyatakan bebas dari kanker. Ada satu hal yang tidak mengenakkan dirinya. Ia harus kehilangan seluruh rambut yang ada ditubuhya akibat efek dari pengobatan yang dilakukannya itu.
Sekarang ia sudah bisa hidup normal seperti sebelum ia terkena kanker. Sekarang ia juga telah duduk di bangku kelas sembilan dan menjalani hari-hari yang bahagia bersama teman dan sahabat-sahabatnya. Lima bulan berlangsung dengan baik hingga kanker itu menyerang tubuhnya lagi.
Kanker yang sama tumbuh lagi pada bagian pelipis mata kanan Keke. Kanker itu makin hari makin besar. Ia dibawa lagi ke Prof. Mukhlis yang dulu telah berhasil menyembuhkannya. Pengobatan dengan cara yang sama sepeti dulu pun dilakukan. Namun usaha itu tak berhasil karena kanker tersebut sudah kebal terhadap obat yang dulu pernah di pakai untuk penyembuhan.
Makin lama kanker tersebut menggerogoti semua organ tubuh Keke, hingga menyerang bagian otaknya. Dokter memutuskan untuk diadakan operasi. Operasi pertama tak memberikan dampak sama sekali pada tubuh Keke. Saat operasi kedua akan dilakukan, Keke justru telah terlebih dahulu meregang nyawanya dalam keadaan yang khusnul khotimah. Kepergiannya memberikan banyak memberikan pelajaran bagi orang-orang di sekitarnya tentang makna hidup di dunia ini.